Aku tidak tau dari mana semua ini bermula. Aku hanya ingat tiba-tiba saja aku sepakat dengan Kirana untuk mencoba mengikuti pendaftaran kompetisi APEX Business IT Case Challenge yang diumumkan oleh Pak Adila di forum umum SCeLe. APEX Business IT Case Challenge adalah sebuah kompetisi yang mengangkat isu penggunaan IT untuk menyelesaikan masalah bisnis dalam kehidupan nyata, yang tahun 2010 nanti akan di laksanakan di Singapore.
Tertera jelas disana bahwa lebih baik berkolaborasi dengan anak FE untuk ikut mendaftar kompetisi ini. Maka aku dan Kirana pun mencari anak FE yang bersedia diajak bersibuk-sibuk ria untuk mengikuti seleksinya. Isni, salah satu anak FE paling exist di asrama semula bersedia untuk bergabung dengan kami, tapi karena satu dan lain hal yang tak bisa disebutkan tiba-tiba Isni membatalkan rencananya untuk bergabung dengan kami mengikuti pendaftaran kompetisi tersebut. Tapi Isni berjanji, dia akan mencari pengganti untuk bergabung dengan kami agar aku dan Kirana tetap bisa mengikuti pendaftaran tersebut. Sampai akhirnya Kirana menyampaikan kepadaku bahwa Isni telah menemukan orang yang tepat untuk bergabung dengan kami, namanya Fadel.
Fadel? Seperti apa orangnya? Tinggi? Rendah? Besar? Imut-imut? Galak? Baik hati ramah tidak sombong dan rajin menabung? Haha, we know nothing about Fadel, and we have no idea how he looks like.
Aku juga tidak ingat kapan pertama kali aku mengirimkan sms kepada Fadel untuk mengatakan bahwa kita satu tim untuk pendaftaran kompetisi APEX Business IT Case Challenge. Aku cuma ingat isi sms itu berawalan: “dear Fadel”, dan aku lupa lanjutannya. Haha, konyol dan tidak penting.
Awal-awal kita sempat ragu untuk ikut mendaftar, mengapa? “Lihat saja, siapa orang-orang yang mendaftar, ka Ivan, ka Feli, ka Oscar, ka Iqbal, mereka itu angkatan 2007 ke atas semua Kika. Memangnya kita boleh?” jelas Kirana. Sekarang aku, Kirana dan Fadel berada di tahun kedua. ya, kami bertiga angkatan 2008. Daripada ragu-ragu tidak jelas, akhirnya aku dan Kirana memutuskan untuk menemui Pak Adila. Tidak ada ruginya kami bersusah-susah mengejar Pak Adila kesana kemari, kami menemukan titik terang, dan ternyata 2008 boleh ikut mendaftar.
Setelah dorong-dorongan dan suit gambreng tidak jelas, aku pun terpaksa jadi korban memosting nama kami bertiga untuk didaftarkan, sedikit minder memang, mengingat pendaftar-pendaftar lainnya merupakan sesepuh-sesepuh Fasilkom dan FE.
“Kita harus ngumpul sama Fadel ka. Kita harus mulai membicarakan hal ini bersama,” kurang lebih seperti itu yang diucapkan Kirana. Sepertinya dia sangat menggebu-gebu untuk mendaftar kompetisi ini. Dan pada hari Selasa, tanggal berapa tepatnya aku lupa, kami bertiga sepakat untuk bertemu dengan Fadel di FE.
tukutukutuk… Siang bolong di bawah panas terik matahari, aku dan Kirana berjalan kaki ke FE demi menemui Fadel. We are so excited, because it will be the first time for us to meet Fadel, meskipun sebelumnya Kirana pernah bertemu dengan Fadel saat dikenalkan oleh Isni, tapi ini adalah pertama kalinya kita berkumpul.
Menunggu di perpus FE, setelah berputar-putar nyasar di FE, krik.. krik.. Fadel yang dinantikan tak kunjung tiba, katanya dia sedang rapat. Oke… Sungguh saat itu sangat mendebarkan karena aku dan Kirana tidak tahu orang seperti apa yang akan jadi partner kami.
Ya!!!!! Akhirnya datang juga! Sepertinya dia habis berlari, mungkin cuma izin sebentar dari rapat. Ckckck, pasti dia sibuk sekali. Tanpa memanjang-manjangkan basa basi, aku dan Kirana berkenalan sekedarnya dengan Fadel, dan menjelaskan sedikit tentang APEX Business IT Case Challenge. Aku dan Kirana memperlihatkan kepada Fadel thread yang dipost oleh Pak Adila tentang APEX Business IT Case Challenge. Setelah melihat-lihat dan membaca siapa saja yang ikut mendaftar, tiba2 Fadel berseru, “Oh Ekky Gompa!”. Itu pertama kalinya aku mendengar nama Ekky Gompa, fadel menyebutkan bahwa Ekky Gompa merupakan salah satu mahasiswa FE yang sudah sangat terbiasa mengikuti perlombaan-perlombaan. Hm.. Ekky Gompa, nama yang unik. Tidak sampai 15 menit menyampaikan tentang APEX Business IT Case Challenge, kami kembali ke Fasilkom.
Beberapa hari kemudian, proses seleksi untuk pendaftaran dimulai. Sebuah kasus diberikan, dan kita diharuskan untuk memberikan rekomendasi solusi terhadap kasus tersebut. Kalian tahu, saat itu adalah minggu-minggu UTS, tapi aku tetap harus mempertanggungjawabkan keisengan ini
Mulanya dateline dikumpulkannya rekomendasi adalah hari senin (mungkin pengumuman itu keluar seminggu sebelum dateline, aku lupa), tapi berkat usul dari ka Feli, maka dateline pengumpulan diundur jadi hari Rabu. Aku, Kirana, dan Fadel baru bisa berkumpul kembali untuk kedua kalinya pada hari minggu, minggu itu juga. Saat itu kami sudah tau bahwa dateline diundur jadi hari Rabu, tapi kami tidak memberi tahu Fadel, karena kami ingin seolah-olah datelinenya memang hari Senin besok (dasar dateliner), dan kita harus mengoptimalkan waktu untuk semaksimal mungkin menyelesaikan rekomendasi tersebut pada hari Minggu itu.
Kami sepakat untuk mengerjakannya di perpus pusat alih-alih mengerjakannya di asrama, dengan asumsi setidaknya di perpus pusat kita bisa ngenet untuk mencari bahan referensi yang diperlukan.
Dan tahukah kalian? Kami sama sekali lupa, Fadel itu orangnya yang mana, Gawat!
Ada sosok besar duduk di meja tengah perpus yang kami duga kuat adalah Fadel, aku sekilas melirik-liriknya, dan dia juga melirik-lirik. Lalu aku dan Kirana berpikir, Fadel tidak seseram itu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan sms: “del kamu dimana?” ; “aku di lantai satu perpus”; aku dan Kirana saat itu juga sedang berada di lantai satu perpus. Aku masih ingat sekali, saat itu aku mengirimkan sms paling konyol sedunia: “kamu liat dua cewek cantik pake kerudung pink dan biru dongker ga? itu kita”. Tak lama kemudian aku melihat cowok seram tadi membereskan barang-barangnya dan dia berjalan ke meja di mana kita duduk. Ternyata cowok seram itu adalah Fadel. Gyahahahaaaaa XD
Aku hanya diam, tak banyak yang aku katakan pada pertemuan kedua itu, begitu pun Kirana. Mungkin kami bertiga masih kaku untuk saling bertanya dan mengobrol. Kami mengerjakan rekomendasi tersebut dalam diam, hanya berbicara sesekali ketika ada hal yang ingin ditanyakan. Lucu sekali, ini adalah kerja tim, tapi seperti pekerjaan pribadi. Fadel mengerjakan dengan amat serius, karena aku tahu, dia tidak tahu bahwa dateline diundur, dia sedang bekerja under stress.
Sebagai mahasiswa tahun kedua, kami tidak memiliki ilmu cukup banyak untuk membuat sebuah rekomendasi solusi. Apa yang bisa kami lakukan selain browsing? Ya, chatting! Ka Suharjono dan Ka Ilman adalah korban buat pertanyaan-pertanyaan kami. Sebagai sesepuh Fasilkom, aku dan Kirana percaya, mereka cukup pintar untuk membantu membagikan sedikit ilmunya agar dapat kami gunakan untuk membuat rekomendasi. Thank you ka Ilman dan ka Jono
Maaf kita bohong dengan mengatakan bahwa kita sedang mengerjakan tugas Kombistek
Pukul 15.00 adalah saatnya perpus ditutup. Kami bertiga harus pulang, tak lupa sebelum pulang kami menyampaikan bahwa dateline pengumpulan diundur jadi hari Rabu. Saat itulah kami melihat Fadel kegirangan, haha. Maaf ya Fadel kami, tidak memberi tahu sejak awal
Waktu dateline semakin mendekat, aku, Kirana, dan Fadel semakin sibuk menyelesaikan rekomendasi tersebut. Dua hari sebelum dateline, tiap malam sepulang dari kampus kami berkumpul untuk menyelesaikannya sampai larut malam.
Rekomendasi solusi business IT tersebut selesai pada hari H. dan kami mengumpulkannya di ruangan Pak Adila pada pukul 17.00 selepas aku kuliah Kombistek. What a dateliner…
Dalam tahap seleksi ini, 3 rekomendasi terbaik akan dipilih untuk kemudian dipresentasikan di hadapan para juri, dan hanya akan dipilih 1 terbaik untuk kemudian di daftarkan secara resmi pada APEX Business IT Case Challenge.
Hari senin berikutnya pengumuman 3 rekomendasi terbaik di umumkan, dan….
Buah jengkol buah mengkudu, siapa sangka siapa menduga, rekomendasi yang kami buat terpilih untuk dipresentasikan bersama tim ka Oscar dan tim ka Feli. Dan hebohlah satu dunia.
….to be continued